Artikel

LITERASI TAK BERBATAS MENUJU KEMAJUAN BANGSA

Oleh : Zahra Roidah Amalia Hasna

 

            Indonesia masih memiliki segudang masalah yang menghentikan langkahnya untuk tetap berada di jajaran negara berkembang. Populasi yang meledak-ledak dengan kurangnya pembangunan insfratuktur, disertai dengan rendahnya pendidikan dan kesejahteraan membuat gelar “Zamrud Khatulistiwa” Indonesia perlu ditanyakan lagi. Katanya kaya SDA, katanya melimpah SDM-nya, tapi kenapa namanya belum terdengar sampai ke luar sana?

Letak Indonesia bisa disebut cukup strategis, dilewati jalur perdagangan internasional dan menjadi persinggahan negara dari seluruh penjuru dunia. Akan tetapi, masih ada suatu penghalang di negeri ini. Tidak menutup faktisitas sejarah di mana Indonesia memang negara bekas penjajahan, hal itu bukan merupakan suatu alasan untuk mengelak bahwa sejak kemerdekaan sampai sekarang belum ada perubahan dan kemajuan yang cukup signifikan dan nyata. Faktanya, Indonesia masih menutup mata dari dunia luar dan realita.

Benar jika Indonesia sudah mulai terbuka dengan teknologi. Alat transportasi, alat komunikasi, internet, dan hal-hal lainnya memang sudah terpenuhi. Tetapi, apa kabar dengan minat baca dan literasi? Sejak puluhan tahun silam, negeri ini belum sempat membukakan pintu untuk hal penting ini. Di tahun sekarang, fakta tersebut masih pula melekat erat. Pemikiran mayoritas masyarakat khususnya pelajar masih belum memandang literasi dan buku sebagai hal yang penting untuk kemajuan sebuah bangsa. Apatisme mereka puja-puja, teknologi mereka tuhankan, literasi selama ini selalu terabaikan.

Dilansir dari data studi ‘Most Littered Nation in the World’ yang pernah dirilis Central Connecticut State University pada tahun 2016, minat baca masyarakat Indonesia rupanya berada di peringkat ke-60 dari 61 negara. Posisi itu tepat berada di bawah Thailand dan di atas Bostwana. Unesco pun mengungkapkan jika minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Itu berarti dari 1000 orang Indonesia, hanya terdapat satu orang yang rajin membaca.

Data tentang minat membaca buku di kalangan pelajar pun juga tak kalah memprihatinkan. Taufiq Ismail pernah membandingkan budaya baca di kalangan pelajar dari beberapa penjuru dunia saat ini. Dari survei yang dilakukan, Taufik menyebutkan bahwa rata-rata lulusan SMA per tahun di Jerman membaca 32 judul buku, di Belanda 30 buku, Rusia 12 buku, Jepang 15 buku, Singapura 6 buku, Brunai 7 buku, sedangkan Indonesia nol buku. Sungguh miris. Dalam kondisi demikian, wajar jika Taufiq Ismail menyebut anak kita mengalami “rabun membaca dan lumpuh menulis”. Alih-alih buku yang dipegangnya, justru mereka lebih bangga dengan handphone dan gadget di saku mereka.

Rendahnya minat baca tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai hal. Mulai dari kurangnya fasilitas, sarana, dan prasarana, minimnya perpustakaan dan toko buku di kota-kota kecil, kebiasaan membaca yang tidak dibiasakan sejak dini, sampai lingkungan di sekitar para pelajar. Sebagai contoh, banyak perpustakaan sekolah di kota saya yang tidak pernah memperbarui bukunya. Hal tersebut sangatlah berdampak fatal karena pandangan pertama para pelajar terhadap perpustakaan akan berpengaruh terhadap totalitas pandangan mereka. Jika perpustakaan sekolah, perpustakaan yang terdekat dengan mereka sudah memberikan atmosfer yang tak ramah dan membosankan, bagaimana mereka bisa tertarik dengan perpustakaan-perpustakaan di luar sana?

Hal lain yang mempengaruhi minat baca adalah teknologi. Perkembangan teknologi melaju secepat kilat. Koran dan majalah tergantikan oleh internet, surat dan korespondensi tersingkirkan oleh handphone. Hidup menjadi serba instan dengan pemikiran masyarakat yang serba instan pula. Membaca buku tak lagi diterima karena itu tidak tergolong hal yang instan. Desain, visual, dan warna yang menarik dari laman-laman internet cenderung lebih menarik perhatian ketimbang buku tebal yang tak berhiaskan satu pun ilustrasi.

Yang selanjutnya adalah lingkungan. Lingkungan merupakan salah satu akar dan faktor  yang cukup berdampak bagi karakter pelajar. Minat baca bukanlah suatu budaya yang terbentuk dengan mudah, harus terdapat pembiasaan sejak dini yang dilakukan. Lingkungan rumah dan sekolah merupakan lingkungan yang berpotensi dalam pembentukan karakter tersebut. Lingkungan dengan atmosfer baik akan mendatangkan hal-hal yang baik karena pada dasarnya manusia akan mulai meniru dan beradaptasi dengan lingkungannya. Seto Mulyadi (2005) menyatakan bahwa anak-anak yang gemar membaca, pada umumnya anak-anak yang mempunyai lingkungan, yaitu orang-orang di sekeliling yang juga gemar membaca. Jadi, jika orang-orang di sekitar kita adalah orang-orang terliterasi dengan minat baca tinggi, niscaya secara berangsur-angsur kebiasaan tersebut akan mulai menular.

Rendahnya angka literasi di kalangan pelajar dapat menuang sedikit demi sedikit dampak buruk bagi Indonesia. Mulai dari penerbit yang tak mungkin bisa mencetak banyak buku, sehingga harga buku pun meroket tajam, buku bajakan mulai menjamur di mana-mana, dan penulis pun kurang terhargai dengan pajak yang sangat tinggi sehingga berkuranglah motivasi mereka untuk terus menulis, sampai menuju ke permasalahan utama, yaitu nama Indonesia yang masih tertera di jajaran negara berkembang. Coba lihat Vietnam, negara yang baru saja terlepas dari belenggu penjajah itu saja sudah dapat mengambil lonjakan tinggi untuk kemajuan bangsanya. Apa kabar dengan kita? Sadarlah, minat baca itu merupakan hal yang penting sekali!

Mengutip dari perkataan Napoleon Bonaparte, aku lebih takut dengan pena seorang jurnalis daripada dikepung oleh seribu bedil musuh. Sedang Soekarno pun pernah berkata, beri aku sepuluh pemuda maka akan kuguncang dunia. Data menyebutkan bahwa jumlah pelajar dan pemuda di Indonesia adalah 20% dari penduduknya. Jumlah yang cukup untuk bagian yang kelak nantinya akan menggantikan generasi lama untuk memegang tangan bangsa. Pelajar merupakan figur penting dengan intelektual tinggi dalam masyarakat yang menjunjung berjuta harapan di pundak mereka. Coba saja jika budaya minat baca dan literasi menjamur di kalangan mereka, mau menjadi seberapa hebat generasi Indonesia di masa yang akan datang nanti? Hal ini sebenarnya dapat menjadi ikatan sempurna dalam paket komplit kemajuan bangsa Indonesia yang dinanti-nantikan. Dengan modal pendidikan mutakhir melalui berbagai sumber informasi, literasi, dan semangat besar para pelajar yang secara dialektis sesungguhnya mampu untuk menciptakan kemajuan Indonesia.

Siraman informasi dan kemudahan komunikasi memang membuat pelajar Indonesia semakin majemuk dengan beragam budaya yang masuk. Bukan hal yang pasti jika Indonesia selalu mendapatkan hal-hal yang positif dan baik. Terkadang kita masih belum bisa menyaring dan menyadari jika ada batas-batas antara sesuatu yang perlu kita serap dan sesuatu yang perlu ditinggalkan. Sekolah merupakan salah satu faktor penting dalam pembentukan karakter pelajar tersebut. Mengapa sekolah? Karena sekolah adalah sebuah lembaga pendidikan yang berperan sangat penting bagi  pengembangan potensi sumber daya manusia. Walaupun di Indonesia, secara umum kegiatan intelektual membaca dan menulis belum menjadi tradisi di sekolah. Bahkan di lingkungan sekolah yang notabene merupakan sebuah komunitas akademik, kegiatan membaca dan menulis di kalangan guru maupun siswa pun masih rendah.

Mungkin tradisi membaca dan menulis masih agak lumayan muncul di kalangan perguruan tinggi. Padahal sejak jaman Belanda, tradisi intelektual ini sudah dimunculkan sejak tingkat sekolah. Siswa AMS (sekolah Belanda) diwajibkan harus membaca 25 judul buku sebelum mereka lulus. Dengan kebijakan seperti itu kita bisa melihat hasilnya yaitu tradisi intelektual yang kuat dari para tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan yang mencicipi sistem persekolahan Belanda tersebut.

Sistem pendidikan dan sekolah di Indonesia seharusnya dapat mencontoh hal tersebut. Sekolah sebagai tempat yang menuntun, membimbing, dan mengarahkan pelajar ke dalam jalan yang tepat sudah sewajarnya dapat mengadakan gerakan literasi untuk membangun pelajar Indonesia dengan minat baca dan melek literasi yang tinggi.

Gerakan literasi sekolah dapat mulai dilakukan dengan mengevaluasi dan memperbaiki perpustakaan di tiap sekolah sejak tingkat Pra Sekolah hingga Sekolah Menengah. Perpustakaan dengan standar yang layak dan koleksi buku-buku terbaru hanyalah sebagian kecil. Sebagian besarnya adalah perpustakaan yang kurang terawat dan jarang diperbarui. Sekolah seharusnya memiliki perpustakaan yang baik dengan tempat strategis di lingkungan sekolah yang mudah dilihat, terjangkau, dan menyenangkan. Selama ini posisi perpustakaan di setiap sekolah nampaknya lebih banyak di tempat-tempat yang tersembunyi, sehingga jarang dikunjungi para siswa.

Gerakan sekolah yang lain adalah program wajib kunjung perpustakaan. Tanggal 14 September telah ditetapkan sebagai Hari Kunjung Perpustakaan dan bulan September dicanangkan sebagai Bulan Gemar Membaca sejak tahun 1995 oleh Presiden Soeharto. Selaras dengan itu, berdasarkan Peraturan Menteri Nomor 21 tahun 2015, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mewajibkan setiap anak didik untuk membaca buku sebelum memulai jam pelajaran. Jenis buku yang dibaca bebas, asalkan mengandung muatan budi pekerti. Jadi, para siswa dapat memanfaatkan waktu mereka di awal jam sekolah untuk membaca buku sesudah selesai beribadah dan membaca kitab suci.

Untuk mendorong menumbuhkan kebiasaan membaca dan menulis bagi pelajar, akan lebih baik jika ada pula sosok panutan yang bisa memberikan contoh bagi mereka. Guru adalah salah satunya. Untuk melatih dan menumbuhkan kebiasaan membaca bagi para guru, maka pemerintah harus mengeluarkan kebijakan untuk memberikan kemudahan bagi guru dalam memperoleh dan mengakses buku-buku. Berikan diskon harga khusus bagi guru-guru dalam membeli buku, dan berikan insentif untuk membantu mendorong penerbitan buku-buku yang ditulis oleh guru.

Selain hal-hal tersebut, adapula penyuluhan ataupun seminar untuk para siswa yang dapat dilakukan. Sebagai contoh adalah seminar jurnalistik yang melibatkan sejumlah siswa di dalam suatu sekolah. Pengadaan lomba-lomba literasi juga merupakan siasat yang jitu. Secara tidak langsung, para siswa akan berkompetisi dan memacu semangat mereka dalam literasi. Bulan bahasa merupakan salah satu waktu yang tepat. Sekolah yang peduli seharusnya dapat mengadakan acara besar saat bulan bahasa tiba. Hal tersebut dapat menjadi wadah untuk menampung segala aspirasi dan kreativitas siswa dalam bersastra maupun berliterasi.

Jika hal-hal tersebut benar-benar dapat terealisasikan, Indonesia dengan literasi tinggi pasti dapat terwujudkan. Bukan seutuhnya peran sekolah semata, ini juga peran kita semua yang mulai bergerak dan maju.

Yang perlu kita lakukan sekarang adalah berevolusi dan melangkah di jalan yang tepat. Bukan hanya karena suatu ekspektasi, tapi seutuhnya dengan aksi. Dan tidak hanya sekedar eksitensi, tapi karena peduli karena itulah hakekat hidup yang sejati, yaitu senantiasa memberi kemanfaatan bagi sekitar kita. Apakah kita hanya akan berpangku tangan dan memperburuk keadaan di saat kita bisa maju dan saling menggenggam tangan?

 

Daftar Pustaka

  • Adhim, Muhammad Fauzil. 2015. Membuat Anak Gila Membaca.

Yogyakarta: Pro-U Media

  • Kak Seto. 2004. “Pendidikan dan Masalah Perkembangan Anak”.dalam

Sindhunata (ed.). Membuka Masa Depan Anak-anak Kita. Yogyakarta: Kanisius